Menghadapi kondisi lingkungan kerja seperti itu membuat Saya tidak bisa diam. Saya tidak bisa duduk manis kerja di belakang meja. Saya tidak tahan melihat sekolah yang menyedihkan ini. Langkah pertama yang Saya lakukan adalah meminta izin kepada ketua yayasan untuk membuat proposal. Yang pertama Saya ingin melengkapi ruang kerja TU dengan satu unit komputer dan selanjutnya menyediakan lab komputer untuk siswa. Ide Saya tersebut tidak di setujui pihak yayasan, tetapi Saya tidak kehabisan akal.
Saya dekati salah seorang anak ketua yayasan yang notabenenya murid Saya sendiri. Saya yakinkan dia bahwa dengan proposal itu kita bisa berbuat banyak. Akhirnya, murid Saya tersebut membujuk bapaknya untuk menyetujui ide Saya. Usaha kami berhasil, ketua yayasan bersedia menandatangani proposal. Dari sinilah Saya mulai bergerak mengumpulkan rupiah demi rupiah dengan modal tebal muka. Memang ini sangat berat, banyak orang mencibir tetapi Saya tidak ambil pusing. Prinsip saya yang penting uang itu bukan Saya makan. Dalam tempo dua bulan, kerja keras kami membuahkan hasil. Komputer yang selama ini menjadi barang mewah buat sekolah ini berhasil kami beli bahkan tiga unit komputer tercanggih untuk saat itu. Saat itu jumlah siswa-siswi kami tak lebih dari 39 orang. Kesemuanya anak-anak miskin dan semuanya nunggak iuran. Paling keren pekerjaan orang tua mereka kuli bangunan dan tukang rujak bebek. Saya tidak tega dan tidak bisa menekan mereka agar bayar utang spp. Setelah tidak bisa tidur mencari jalan keluar beberapa malam, akhirnya kembali Saya menghadap ketua yayasan. Kali ini Saya mengajukan permohonan pembebasan spp bagi seluruh siswa. Ketua yayasan melotot tak percaya akan ide ini. Dia bertanya dari mana harus bayar honor guru kalo sekolah di gratiskan. Saya menjawab tidak di gratiskanpun mereka tidak bisa bayar jadi percuma saja.
Untuk honor guru Saya berjanji akan bisa menutupinya, Ketua yayasan akhirnya setuju walau ragu. Bulan-bulan pertama setelah di gratiskannya sekolah ini memang berat. Kadang-kadang uang honor privat saya habis untuk operasional. Saya adalah orang yang sangat yakin dengan kekuatan. Setiap pagi saya ajak anak-anak ke Masjid sekolah untuk membaca Alqur'an bersama dan berdoa. Lucunya, dalam doa yang kami panjatkan bersama ini Saya menuntun anak-anak untuk mengucapkan apa yang Saya ucapkan. Ini doa yang selalu kami baca setiap hari."Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk mengelola sekolah ini, Ya Allah pertemukan kami dengan orang-orang yang cinta dan sayang dengan anak-anak ini,Ya Allah berilah kami uang yang banyak yang bisa meningkatkan kesejahteraan para guru dan anak-anak kami, berilah kami uang untuk memperbaiki sekolah ini". Doa ini selalu kami ulang-ulang setiap pagi sampai-sampai anak-anak hafal dengan doa ini. Tidak butuh waktu lama bagi Allah untuk mengabulkan doa kami. Tidak sampai satu tahun jawaban dari Allah datang. Rezeki berupa uang datang mengalir ke kas kami. Tidak pernah lagi honor guru telat dan anak-anak dapat jatah susu seminggu sekali. Bukan hanya itu saja Mie 2006 saya bertemu dengan teman saya yang berasal dari Saudi Arabia yang selama ini hanya bicara lewat telpon. Dari beliau kami mendapat 10 unit komputer untuk laboratorium.
Karunia Allah benar-benar terus mengalir dari jalan yang selama ini tidak pernah terbayang di kepala Saya. Kami bisa melakukan rehab total. Sekolah kami sekarang sudah bagus dan jumlah muridpun sudah banyak yaitu 183 orang dan semuanya gratis. Tetapi lagi-lagi pekerjaan Saya tidak di hargai apalagi di syukuri. Kembali saya kena fitnah dan hanya Allah SWT yang mengetahui semua niat baik Saya. Fitnah ini bermula dari karunia Allah yang sangat besar seharusnya akan merubah sekolah kami lebih baik lagi. Ceritanya pada bulan februari 2009 ada orang yang menawarkan dana kepada kami. Dana yang jumlahnya sangat fantastis,10 M. Tanpa berpikir panjang Saya terima dan Saya buat proposal yang langsung di tanda tangani ketua yayasan yang baru ,yaitu anak laki-laki tertua dari pemilik yayasan dan sekaligus ketua yayasan yang lama. Tepat tanggal 14 februari 2009 Saya dan salah seorang anak pemilik yayasan yang selama ini menbantu kerja Saya, bertemu dengan pimpinan LSM yang akan memberikan bantuan. Dari pertemuan itu proposal kami di kabulkan dan keesokan harinya sekolah kami di survey. Lima hari kemudian kami bertemu lagi di salah satu mall di jakarta untuk penandatanganan MOU.Dalam MOU di sepakati bahwa LSM yang menjadi broker akan mendapatkan 20% dari seluruh dana yang di janjikan.
Saya tidak bisa membendung rasa bahagia saat itu. Sepulang dari pertemuan itu Saya langsung menyampaikan hasil pertemuan kepada ketua yayasan. Tetapi apa yang Saya hadapi bukan kegembiraan malah Saya di terima dengan wajah asam. Duit belum di tangan kedengkian sudah merasuki seluruh pengurus yayasan. Mereka yang selama ini masa bodoh dengan urusan sekolah mendadak mau mengaudit Saya. Sebenarnya, Saya tidak masalah kalo saja mereka memintanya dengan resmi dan sopan tetapi ini tidak mereka berlaku seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Singkat cerita terjadi keributan hebat di keluarga yayasan antara yang membela Saya dengan yang ingin mengusir Saya. Tidak ada yang bisa melembutkan hati mereka. Mereka menjadi buta dan termakan fitnah dan kebencian. Yayasan tidak memecat saya melainkan saya harus bertanggung jawab memindahkan anak-anak ke mana saja karena sekolah yang selama ini sudah susah payah kami perbaiki akan di tutup tanpa kompromi. Saya lunglai saya tidak tau harus bagaimana apa. Sementara uang yang katanya M an itu saya batalkan saja, tetapi pihak yayasan dan para kroninya tetap menuduh saya. Kini saya hancur dan bingung harus memindahkan anak-anak yang kesemuanya anak-anak miskin(yatim piatu dan anak-anak jalanan serta anak para pemulung)itu.
Atas usul para guru Saya mengumpulkan orang dam wali murid. Saya umumkan pada mereka bahwa Saya sudah tidak bisa lagi membantu pendidikan anak-anak mereka. Saya katakan bahwa mereka harus pindah setelah penerimaan raport dua minggu lagi. Tetapi dari pertemuan ini lagi-lagi Saya merasa tidak boleh menyerah dan harus mencari jalan keluar yang lebih baik. Karena para orang tua itu mengatakan bahwa jika sekolah ini di tutup mereka sudah pasti tidah bisa memindahkan anaknya ke sekolah. Karena di samping keuangan mereka tidak memungkinkan mereka juga tidak memiliki dokumen kependudukan. Demi mereka sekali lagi Saya membujuk pihak yayasan untuk tidak menutup sekolah. Saya katakan lebih baik Saya yang mengundurkan diri, tetapi hati mereka tetap tertutup. Sekolah tetap di tutup dan saya di beri waktu sampai liburan akhir tahun.
Jiwa sosial Saya kembali membuat Saya tertantang. Saya yakin Allah pasti akan menolong anak-anak lewat tangan Saya. Tawa anak-anak miskin yang tidak tahu apa yang terjadi itu benar-benar menjadi tonikum buat Saya. Saya bersumpah akan membantu
mereka. Saya sudah menemukan jalannya, Langkah pertama saya telpon donatur Saya, Saya ceritakan semua yang menimpa Saya tanpa di kurangi dan di lebih-lebihkan sedikitpun. Alhamdulillah beliau mau membantu kami. Beliau menyarankan Saya agar segera mencari gedung sekolah atau gedung apapun yang bisa di sewa untuk di jadikan sekolah. Ini benar-benar membuat saya menjadi merasa hidup kembali. Dalan jangka waktu dua minggu kurang Saya berjalan ke sana ke mari mencari sekolah atau gedung lain yang akan kami sewa. Tetapi sampai limit waktu kurang tiga hari kami belum menemukannya. Pas satu hari sebelum penerimaan raport atau sebelum limit waktu, kami menemukan sebuah gedung sekolah tua yang sudah sepuluh tahun tidak di gunakan yang tentunya sangat hancur dan rusak parah.Tetapi apa boleh buat walaupun di tertawakan para guru sekolah tua ini saya ambil, dan lucunya kami tetap di kenai harga kontrak yang sang mahal 5 juta perbulan.
Pada saat penerimaan raport Saya sampaikan kabar gembira ini kepada para siswa dan orang tua mereka. Bukan main senangnya mereka,padahal mereka tidak tahu betapa hancurnya sekolah baru mereka. Namun saya rahasiakan hal ini dari mereka.
Saat liburan praktis saya tidak bisa berlibur. Saya telpon semua kenalan untuk bisa membantu saya merenovasi sekolah baru kami. Sekali lagi Allah selalu baik pada kami. Saat saya ceritakan kondisi sekolah ini pada Ibu Dina, Mama dari murid privat saya, bliau berkenan melihat sekolah ini dan beliau ambil beberapa gambar dari kelas-kelas yang kondisinya sangt parah. Dari beliau inilah kami bisa merenovasi sekolah dalam tempo yang sangat singkat. Setelah sekolah ini selesai dan layak di tempati kini kami mengurus legalitas lembaga ini. Kami buat akte notaris dan mendaftarkan sekolah ini ke Kementrian Agama dan Kementrian Diknas. Yayasan kami kami beri nama Yayasan Azra Alkurashi sedangkan sekolah kami beri nama Miftahurrahman.
Anak-anak miskin yang kami bina merupakan guru yang telah mendewasakan kami dan menjadi tonikum yang menyemangati kami untuk selalu berbuat bagi bangsa ini. Semoga kami akan terus teguh menjaga amanah ini, dan semoga kami bisa segera memiliki gedung sekolah sendiri.
Sabtu, 12 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar